International Open University
> Artikel
Bukan Isu Modern, Kesadaran Lingkungan Sudah Hadir dalam Puisi Arab Kuno
Kesadaran terhadap lingkungan ternyata bukan hanya menjadi perhatian masyarakat modern. Jejak hubungan manusia dengan alam telah hadir dalam sastra Arab sejak masa Jahiliyah dan kemudian mengalami perkembangan makna pada periode Islam Awal. Melalui puisi-puisi klasik, alam tidak sekadar tampil sebagai latar kehidupan, tetapi juga menjadi bagian penting dari pengalaman, identitas, serta cara manusia memahami hubungannya dengan lingkungan dan Sang Pencipta.
Temuan tersebut dihasilkan melalui penelitian berjudul “Manisfestation of Ecological Consciousness in Early Arabic Literature: A Comparative Ecocriticism Approach between The Pre-Islamic and The Early Islamic Period”. Penelitian ini membandingkan representasi alam dalam puisi masa Jahiliyah dan Islam Awal melalui pendekatan ekokritik, dengan menelusuri unsur-unsur seperti gurun, gunung, air, hujan, hewan, langit, cahaya, dan fajar.
Penelitian dipimpin oleh Dr. Saepul Anwar, M.A., M.Hum., bersama Dr. Lukman Sumarna, M.A.Pd. dan Rismawati. Penelitian ini merupakan bagian dari Hibah Tingkat Lanjutan IOU Indonesia periode Desember 2025–Agustus 2026. Hasil penelitian telah dipublikasikan dalam Al-Zahra: Journal for Islamic and Arabic Studies.
Menelusuri Kesadaran Lingkungan dari Sastra Arab Awal
Persoalan lingkungan saat ini semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, pencemaran, hingga eksploitasi sumber daya alam. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan lingkungan juga dapat dipahami melalui dimensi budaya dan nilai yang tercermin dalam karya sastra.
Saepul Anwar dan tim menelusuri bagaimana masyarakat Arab awal merepresentasikan alam melalui puisi. Kajian tersebut tidak hanya melihat keberadaan unsur-unsur alam dalam karya sastra, tetapi juga mencoba memahami bagaimana alam memperoleh makna berbeda pada dua periode sejarah yang dibandingkan.
Pada masa Jahiliyah, kehidupan masyarakat Arab sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan gurun. Gurun, gunung, hujan, sumber air, malam, dan hewan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Unsur-unsur tersebut tidak sekadar berfungsi sebagai latar dalam puisi, tetapi turut membentuk pengalaman, identitas budaya, memori kolektif, serta cara masyarakat memahami kehidupan.
Dari Kesadaran Adaptif Menuju Kesadaran Teo-Ekologis
Hasil penelitian memperlihatkan adanya perbedaan penting dalam cara alam dimaknai pada masa Jahiliyah dan Islam Awal.
Pada puisi Jahiliyah, kesadaran ekologis berkaitan erat dengan realitas kehidupan di lingkungan gurun dan perjuangan untuk bertahan hidup. Unsur alam seperti gurun, gunung, hujan, sumber air, serta hewan menjadi bagian penting yang menentukan keberlangsungan hidup dan membentuk identitas masyarakat Arab.
Memasuki periode Islam Awal, unsur-unsur alam tersebut tetap hadir, tetapi memperoleh pemaknaan yang lebih luas. Alam tidak lagi hanya dilihat sebagai lingkungan fisik tempat manusia hidup, melainkan juga sebagai tanda-tanda kebesaran Allah yang mencerminkan kekuasaan, hikmah, dan pemeliharaan-Nya. Air, gunung, langit, cahaya, dan fajar memperoleh dimensi spiritual serta etis yang menegaskan keterhubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Tim menyimpulkan bahwa sastra Arab mengalami pergeseran dari kesadaran ekologis adaptif-eksistensial pada masa Jahiliyah menuju kesadaran teo-ekologis pada periode Islam Awal. Pergeseran tersebut tidak menghilangkan sensitivitas terhadap lingkungan, tetapi menghadirkan cara pandang baru terhadap alam melalui nilai-nilai tauhid.
Membaca Alam melalui Pendekatan Ekokritik
Kesadaran terhadap lingkungan ternyata bukan hanya menjadi perhatian masyarakat modern. Jejak hubungan manusia dengan alam telah hadir dalam sastra Arab sejak masa Jahiliyah dan kemudian mengalami perkembangan makna pada periode Islam Awal. Melalui puisi-puisi klasik, alam tidak sekadar tampil sebagai latar kehidupan, tetapi juga menjadi bagian penting dari pengalaman, identitas, serta cara manusia memahami hubungannya dengan lingkungan dan Sang Pencipta.
Temuan tersebut dihasilkan melalui penelitian berjudul “Manisfestation of Ecological Consciousness in Early Arabic Literature: A Comparative Ecocriticism Approach between The Pre-Islamic and The Early Islamic Period”. Penelitian ini membandingkan representasi alam dalam puisi masa Jahiliyah dan Islam Awal melalui pendekatan ekokritik, dengan menelusuri unsur-unsur seperti gurun, gunung, air, hujan, hewan, langit, cahaya, dan fajar.
Penelitian dipimpin oleh Dr. Saepul Anwar, M.A., M.Hum., bersama Dr. Lukman Sumarna, M.A.Pd. dan Rismawati. Penelitian ini merupakan bagian dari Hibah Tingkat Lanjutan IOU Indonesia periode Desember 2025–Agustus 2026. Hasil penelitian telah dipublikasikan dalam Al-Zahra: Journal for Islamic and Arabic Studies.
Menelusuri Kesadaran Lingkungan dari Sastra Arab Awal
Persoalan lingkungan saat ini semakin kompleks, mulai dari perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati, pencemaran, hingga eksploitasi sumber daya alam. Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan manusia dengan lingkungan juga dapat dipahami melalui dimensi budaya dan nilai yang tercermin dalam karya sastra.
Saepul Anwar dan tim menelusuri bagaimana masyarakat Arab awal merepresentasikan alam melalui puisi. Kajian tersebut tidak hanya melihat keberadaan unsur-unsur alam dalam karya sastra, tetapi juga mencoba memahami bagaimana alam memperoleh makna berbeda pada dua periode sejarah yang dibandingkan.
Pada masa Jahiliyah, kehidupan masyarakat Arab sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungan gurun. Gurun, gunung, hujan, sumber air, malam, dan hewan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan manusia. Unsur-unsur tersebut tidak sekadar berfungsi sebagai latar dalam puisi, tetapi turut membentuk pengalaman, identitas budaya, memori kolektif, serta cara masyarakat memahami kehidupan.
Dari Kesadaran Adaptif Menuju Kesadaran Teo-Ekologis
Hasil penelitian memperlihatkan adanya perbedaan penting dalam cara alam dimaknai pada masa Jahiliyah dan Islam Awal.
Pada puisi Jahiliyah, kesadaran ekologis berkaitan erat dengan realitas kehidupan di lingkungan gurun dan perjuangan untuk bertahan hidup. Unsur alam seperti gurun, gunung, hujan, sumber air, serta hewan menjadi bagian penting yang menentukan keberlangsungan hidup dan membentuk identitas masyarakat Arab.
Memasuki periode Islam Awal, unsur-unsur alam tersebut tetap hadir, tetapi memperoleh pemaknaan yang lebih luas. Alam tidak lagi hanya dilihat sebagai lingkungan fisik tempat manusia hidup, melainkan juga sebagai tanda-tanda kebesaran Allah yang mencerminkan kekuasaan, hikmah, dan pemeliharaan-Nya. Air, gunung, langit, cahaya, dan fajar memperoleh dimensi spiritual serta etis yang menegaskan keterhubungan antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
Tim menyimpulkan bahwa sastra Arab mengalami pergeseran dari kesadaran ekologis adaptif-eksistensial pada masa Jahiliyah menuju kesadaran teo-ekologis pada periode Islam Awal. Pergeseran tersebut tidak menghilangkan sensitivitas terhadap lingkungan, tetapi menghadirkan cara pandang baru terhadap alam melalui nilai-nilai tauhid.
Membaca Alam melalui Pendekatan Ekokritik
Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif-analitis komparatif dalam kerangka ekokritik atau ecocriticism. Tim menganalisis dan membandingkan sejumlah teks puisi pilihan dari masa Jahiliyah dan Islam Awal melalui studi terhadap sumber primer dan sekunder yang relevan.
Pendekatan ekokritik memungkinkan karya sastra dibaca tidak hanya dari sisi estetika, tetapi juga melalui cara teks menggambarkan hubungan manusia dengan lingkungan.
Salah satu contoh yang dikaji adalah posisi air dan hujan dalam kehidupan masyarakat Arab sebelum Islam. Dalam lingkungan gurun yang kering, air menjadi unsur utama bagi keberlangsungan kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan. Puisi-puisi pada masa tersebut menggambarkan hujan sebagai sumber harapan, kesuburan, dan keberlanjutan kehidupan.
Demikian pula dengan gunung, gurun, hewan, malam, dan berbagai unsur alam lainnya. Kehadirannya dalam puisi menunjukkan kedekatan masyarakat dengan lingkungan sekaligus pengetahuan yang terbentuk dari pengalaman langsung menghadapi kondisi alam.
Setelah hadirnya Islam, unsur-unsur yang sama mulai memperoleh dimensi spiritual. Alam dipandang tidak sekadar berdasarkan manfaat langsungnya bagi kehidupan manusia, tetapi juga sebagai bagian dari tatanan kosmik yang mengarahkan manusia untuk merenungkan kebesaran Allah.

Sastra dan Tantangan Lingkungan Masa Kini
Kajian terhadap sastra Arab klasik ini juga memiliki relevansi dengan tantangan ekologis kontemporer. Menurut tim peneliti, penyelesaian persoalan lingkungan tidak hanya bergantung pada kebijakan, teknologi, atau pendidikan formal. Nilai, budaya, dan cara manusia memandang alam turut membentuk perilaku terhadap lingkungan.
Karena itu, sastra dapat memberikan perspektif tambahan dalam memahami hubungan manusia dengan lingkungan. Melalui karya sastra, nilai-nilai tentang penghormatan terhadap alam, keseimbangan, tanggung jawab, dan hubungan manusia dengan lingkungannya dapat ditelusuri dari berbagai periode sejarah.
Salah satu kebaruan penelitian ini terletak pada pendekatan historis komparatif yang digunakan. Kajian tidak hanya berfokus pada satu karya, satu pengarang, atau satu periode, tetapi menelusuri perubahan kesadaran ekologis dari masa Jahiliyah menuju Islam Awal. Dengan cara tersebut, penelitian berupaya menunjukkan akar historis kesadaran lingkungan dalam tradisi sastra Arab-Islam.
Berpotensi Mendukung Pendidikan dan Literasi Lingkungan
Temuan penelitian memiliki potensi pemanfaatan dalam berbagai bidang. Dari sisi akademik, hasil kajian dapat memperkaya perkembangan studi ekokritik dalam sastra Arab dan membuka peluang penelitian lanjutan mengenai hubungan antara sastra, budaya, agama, dan lingkungan.
Dalam bidang pendidikan, hasil penelitian dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran untuk memperkenalkan kesadaran lingkungan melalui pendekatan sastra dan humaniora. Peserta didik tidak hanya diajak memahami persoalan ekologis secara ilmiah, tetapi juga melalui perspektif budaya, etika, dan keagamaan.
Dari perspektif Islam, penelitian ini juga menyoroti tanggung jawab manusia terhadap alam sebagai bagian dari ciptaan Allah. Dengan demikian, literasi lingkungan dapat dikembangkan tidak hanya berdasarkan pertimbangan praktis, tetapi juga melalui kesadaran etis dan spiritual.
Kesadaran Lingkungan Bukan Konsep Baru
Dr. Saepul Anwar menekankan bahwa hubungan manusia dan lingkungan telah menjadi bagian dari tradisi masyarakat Arab jauh sebelum isu lingkungan menjadi perhatian global seperti saat ini.
“Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa kesadaran lingkungan bukanlah konsep baru dalam tradisi Arab-Islam. Melalui puisi-puisi Jahiliyah dan Islam Awal, kami menemukan bahwa hubungan manusia dengan alam telah menjadi bagian penting dari kehidupan dan budaya masyarakat. Islam kemudian memberikan dimensi baru dengan menghadirkan alam tidak hanya sebagai ruang kehidupan, tetapi juga sebagai tanda kebesaran Tuhan yang perlu dijaga dan dihormati.”
Membuka Ruang bagi Kajian yang Lebih Luas
Penelitian ini masih membuka ruang pengembangan lebih lanjut. Tim merekomendasikan penelitian terhadap sastra Arab pada periode Abbasiyah, Andalusia, modern, dan kontemporer agar perkembangan kesadaran ekologis dalam tradisi sastra Arab dapat ditelusuri secara lebih luas dari masa ke masa.
Kajian saat ini masih terbatas pada teks-teks yang dianalisis. Penelitian lanjutan dengan cakupan karya sastra yang lebih luas, termasuk puisi dan prosa dari berbagai periode, diperlukan untuk memperoleh gambaran yang semakin komprehensif mengenai perkembangan kesadaran ekologis dalam tradisi Arab.
Mengembangkan Ilmu dan Kepedulian terhadap Lingkungan Bersama IOU
Penelitian mengenai kesadaran ekologis dalam sastra Arab ini menjadi salah satu gambaran bagaimana kajian akademik dapat mempertemukan sastra, sejarah, budaya, lingkungan, dan nilai-nilai Islam. Warisan intelektual masa lalu tidak hanya dapat dipelajari sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga dapat menghadirkan perspektif yang relevan untuk memahami berbagai persoalan masyarakat masa kini.
Melalui penelitian, publikasi ilmiah, dan pengembangan kajian lintas bidang, sivitas akademika dapat turut membangun pemahaman bahwa tanggung jawab terhadap lingkungan tidak hanya berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga dengan nilai, etika, budaya, serta cara manusia memahami posisinya di tengah alam.
Mari bergabung menjadi bagian dari ikhtiar membangun generasi yang berilmu, berintegritas, peduli terhadap lingkungan, serta mampu memberikan kontribusi bagi masyarakat bersama IOU. Temukan kesempatan untuk belajar, melakukan riset, dan mengembangkan potensi melalui pendidikan yang fleksibel dan berorientasi pada nilai-nilai Islam.
Daftar dan bergabung bersama IOU Bahasa Indonesia melalui https://bahasa.iou.edu.gm/register.
