International Open University
> Artikel
Menyeimbangkan Karier, Keluarga, dan Pendidikan: Pengalaman Kak Galant di Program Islamic Studies IOU Indonesia
Di tengah kesibukan dunia modern, banyak orang merasa bahwa waktu menjadi salah satu sumber daya yang paling sulit dikelola. Tuntutan pekerjaan, tanggung jawab keluarga, aktivitas sosial, hingga kebutuhan untuk terus mengembangkan diri sering kali membuat pendidikan menjadi hal yang tertunda. Tidak sedikit yang beranggapan bahwa melanjutkan studi, khususnya dalam bidang ilmu agama, harus menunggu kondisi yang lebih longgar atau waktu yang lebih lapang.
Namun pengalaman M. Galant Al Barok, mahasiswa Program Islamic Studies IOU Indonesia angkatan Fall 2024, menunjukkan bahwa menuntut ilmu tetap dapat berjalan di tengah berbagai peran dan tanggung jawab kehidupan.
Berdomisili di Jakarta, Kak Galant saat ini menjalani berbagai aktivitas sekaligus. Ia aktif sebagai independent researcher di bidang riset tanaman, mengajar tahsin Al-Qur’an secara online, menjalankan aktivitas sebagai wiraswasta, serta mengemban amanah terbesar dalam hidupnya sebagai suami dan ayah dari empat anak.
Meski kesehariannya dipenuhi berbagai kesibukan, semangatnya untuk terus belajar agama tidak pernah berhenti.
Menjadikan Ilmu sebagai Penjaga Arah Kehidupan
Bagi Kak Galant, keputusan untuk melanjutkan studi di Program Islamic Studies IOU bukanlah sekadar keinginan pribadi, melainkan bagian dari upaya menjalankan kewajiban seorang Muslim.
Ia mengaku selalu teringat dengan hadis Nabi ﷺ yang menjelaskan bahwa menuntut ilmu merupakan kewajiban bagi setiap Muslim. Pemahaman itulah yang kemudian mendorongnya untuk tetap belajar meskipun aktivitas sehari-hari sudah sangat padat.
Menurutnya, kesibukan dalam pekerjaan, bisnis, maupun aktivitas keluarga tidak boleh menjadi alasan untuk mengabaikan ilmu agama.
“Kalau saya hanya sibuk dengan berbagai aktivitas duniawi tetapi mengabaikan kewajiban menuntut ilmu agama, saya merasa ada sesuatu yang kurang tepat,” ungkapnya.
Kecintaannya terhadap Al-Qur’an juga menjadi salah satu motivasi terbesar. Sebagai pengajar tahsin, ia ingin terus meningkatkan kualitas ilmu yang dimiliki agar dapat mengajarkan Al-Qur’an dengan lebih baik dan benar.
Namun lebih dari itu, ia memiliki tujuan yang lebih mendasar. Ia ingin seluruh aktivitas yang dijalani, mulai dari riset, mengajar, berbisnis, hingga membesarkan anak-anak, tetap berada dalam koridor yang diridhai Allah.
“Ilmu agama bukan pelengkap, tetapi penjaga arah,” ujarnya.
Ketika Waktu Terbatas, Fleksibilitas Menjadi Solusi
Salah satu tantangan terbesar yang sering dirasakan para pekerja dan orang tua adalah keterbatasan waktu. Banyak yang ingin belajar, tetapi merasa tidak memiliki kesempatan untuk menghadiri kelas secara rutin.
Kak Galant mengakui bahwa dirinya juga menghadapi tantangan yang sama. Dengan pekerjaan yang padat dan empat anak yang masih kecil, hampir setiap harinya dipenuhi aktivitas.
Meski demikian, ia berusaha memanfaatkan waktu-waktu terbaik yang tersedia.
Biasanya ia belajar pada malam hari setelah seluruh aktivitas keluarga selesai dan anak-anak telah tidur. Pada saat itulah ia membuka modul perkuliahan, mengerjakan kuis, atau membaca materi yang tersedia di platform pembelajaran.
Alternatif lainnya adalah memanfaatkan waktu pagi sebelum aktivitas dimulai. Menurutnya, waktu pagi sering kali menjadi momen yang penuh keberkahan karena pikiran masih segar dan suasana masih tenang.
Ia merasa sistem perkuliahan di IOU sangat membantu proses tersebut.
“Yang membantu besar adalah format IOU yang sepenuhnya online dan fleksibel. Saya tidak perlu hadir fisik di kelas pada jam tertentu. Jadi saya bisa menyesuaikan dengan ritme keluarga, bukan sebaliknya,” jelasnya.
Fleksibilitas inilah yang membuat banyak mahasiswa dewasa, pekerja profesional, maupun orang tua tetap dapat melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan tanggung jawab utama mereka.

Dari berbagai macam ilmu, ilmu agama adalah satu hal yang sangat penting. Lebih detail lagi yaitu ilmu yang mempelajari tentang kesilaman atau studi islam. Ilmu Islam bukan sekadar kumpulan teori atauBelajar yang Berdampak pada Kehidupan Sehari-hari
Bagi sebagian orang, pendidikan sering kali dipandang hanya sebagai sarana memperoleh gelar atau sertifikat. Namun bagi Kak Galant, pengalaman belajar di Program Islamic Studies memberikan dampak yang jauh lebih dalam.
Salah satu mata kuliah yang paling berkesan baginya adalah Akidah. Melalui mata kuliah tersebut, ia mendapatkan fondasi yang lebih kuat dalam memahami kehidupan dan memandang berbagai aktivitas yang dijalani.
Sebagai seorang peneliti, ia semakin menyadari bahwa ilmu merupakan amanah yang harus digunakan secara bertanggung jawab.
Selain itu, mata kuliah Adab Menuntut Ilmu juga memberikan kesan yang sangat mendalam. Sebagai seseorang yang setiap hari belajar sekaligus mengajar, ia merasa semakin memahami bagaimana seharusnya seorang penuntut ilmu bersikap terhadap guru, terhadap ilmu yang dipelajari, maupun terhadap orang-orang yang diajarkan.
Sementara itu, mata kuliah Fikih membuka wawasan baru tentang keluasan syariat Islam dalam menjawab berbagai persoalan kehidupan modern.
Menurutnya, pemahaman tersebut sangat relevan dengan berbagai situasi kontemporer yang sering ditemui dalam kehidupan sehari-hari.
Melalui pembelajaran yang sistematis, ia tidak hanya memperoleh tambahan pengetahuan, tetapi juga mendapatkan kerangka berpikir yang lebih matang dalam menghadapi berbagai persoalan kehidupan.
Tantangan Terbesar Bukan Waktu, Tetapi Konsistensi
Ketika ditanya mengenai tantangan terbesar selama menjalani perkuliahan, Kak Galant tidak langsung menyebut kesibukan atau keterbatasan waktu.
Menurutnya, tantangan yang paling nyata justru adalah rasa lelah.
Setelah seharian bekerja, menjalankan berbagai aktivitas, dan menghabiskan waktu bersama keluarga, keinginan untuk beristirahat sering kali muncul ketika waktu belajar tiba.
“Godaan untuk langsung tidur itu nyata,” katanya sambil tersenyum.
Untuk mengatasinya, ia selalu berusaha mengingat kembali tujuan awal mengapa dirinya belajar.
Setiap kali rasa malas datang, ia bertanya kepada dirinya sendiri, apakah hari itu sudah ada ilmu agama yang dipelajari. Pertanyaan sederhana tersebut sering kali menjadi pengingat yang kuat untuk kembali membuka materi dan melanjutkan proses belajar.
Selain itu, ia juga tidak menetapkan target yang terlalu berat.
Menurutnya, konsistensi jauh lebih penting dibandingkan ambisi yang berlebihan di awal.
Ia memilih untuk belajar sedikit demi sedikit setiap hari daripada memaksakan diri belajar dalam waktu lama tetapi kemudian berhenti dalam jangka panjang.
Prinsip tersebut selaras dengan hadis Nabi ﷺ yang menjelaskan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus meskipun sedikit.
Menuntut Ilmu di Tengah Kesibukan Bukanlah Hal yang Mustahil
Pengalaman Kak Galant memberikan pelajaran penting bahwa kesibukan bukanlah penghalang untuk menuntut ilmu.
Banyak orang menunda belajar karena merasa belum memiliki waktu yang cukup. Padahal, menurutnya, waktu luang yang sempurna mungkin tidak akan pernah datang.
“Kalau kita menunggu waktu yang tepat atau kondisi yang lebih longgar, itu mungkin tidak akan pernah datang. Kita yang harus menjemput waktunya,” tuturnya.
Ia juga melihat bahwa sistem pembelajaran di IOU memang dirancang untuk menjawab kebutuhan para pekerja, kepala keluarga, dan individu yang memiliki banyak tanggung jawab.
Melalui sistem online yang fleksibel, mahasiswa dapat belajar secara serius dan terstruktur tanpa harus meninggalkan peran-peran penting dalam kehidupan mereka.
Bagi siapa pun yang masih ragu untuk memulai perjalanan menuntut ilmu, Kak Galant memiliki pesan sederhana namun penuh makna.
“Bismillah. Mulailah walaupun pelan. Karena menuntut ilmu bukanlah privilege bagi orang yang memiliki banyak waktu. Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap Muslim, dalam kondisi apa pun. Dan ketika kita melangkah di jalan ilmu, ada janji Allah dan Rasul-Nya yang menyertai langkah tersebut.”
Menuntut Ilmu Adalah Investasi Sepanjang Hayat
Kisah Kak Galant menunjukkan bahwa pendidikan, keluarga, pekerjaan, dan pengabdian kepada masyarakat bukanlah hal-hal yang harus dipertentangkan. Dengan niat yang benar, manajemen waktu yang baik, serta lingkungan belajar yang mendukung, semuanya dapat berjalan beriringan.
Di tengah kesibukan sebagai peneliti, pengajar, suami, dan ayah dari empat anak, ia tetap mampu melanjutkan pendidikan Islam secara terstruktur melalui Program Islamic Studies IOU Indonesia.
Pengalaman ini menjadi pengingat bahwa perjalanan menuntut ilmu tidak mengenal batas usia, profesi, maupun kesibukan. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk memulai dan kesungguhan untuk terus melangkah.
Karena pada akhirnya, ilmu bukan hanya tentang apa yang kita ketahui, tetapi tentang bagaimana ilmu tersebut membimbing arah kehidupan kita menuju ridha Allah Ta’ala.
Jangan tunda langkah Anda untuk menuntut ilmu. Pendaftaran Gelombang 2 IOU masih dibuka hingga 30 Juni 2026 dengan diskon 15%, segera daftarkan diri Anda melalui https://bahasa.iou.edu.gm/register dan mulailah perjalanan ilmu yang akan membawa manfaat bagi dunia dan akhirat.
